Sabtu, 27 September 2014

Isyarat dalam shalat


Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz dari Abu Hazim dari Sahal bin Sa'ad radliallahu 'anhu berkata :

Telah sampai kabar kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa pada suku Bani 'Amru bin 'Auf bin Al Harits di Quba' timbul masalah diantara mereka. Maka Beliau bersama para sahabat Beliau berangkat kesana untuk menyelesaikan masalah. Ternyata Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tertahan lama disana sedangkan waktu shalat sudah masuk.

Maka Bilal menemui Abu Bakar radliallahu 'anhuma seraya berkata :

" Wahai Abu Bakar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terlambat hadir sedangkan waktu shalat sudah masuk, apakah engkau bersedia memimpin shalat berjama'ah? "

Dia (Abu Bakar) menjawab:

" Ya bersedia, jika kamu menghendaki "

Maka Bilal membacakan iqamat shalat dan Abu Bakar maju dan memulai takbir memimpin shalat bersama orang banyak. Tak lama kemudian datang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berjalan di tengah-tengan shaf membelah barisan hingga sampai di shaf. Maka orang-orang memberi isyarat dengan bertepuk tangan.

Sahal berkata: "At-Tashfiih sama maksudnya dengan At-Tashfiiq." Dia berkata:

Saat itu Abu Bakar tidak bereaksi dalam shalatnya. Ketika suara tepukan semakin nyaring terdengar, Abu Bakar baru berbalik dan ternyata ada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Maka Nabi memberi isyarat kepadanya agar tetap meneruskan shalatnya. Lalu Abu Bakar mengangkat kedua tangannya lalu memuji Allah kemudian dia mundur ke belakang dan berdiri di barisan, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam maju untuk memimpin shalat berjama'ah.

Setelah selesai Nabi berbalik menghadap jama'ah lalu bersabda:

" Wahai sekalian manusia, mengapa kalian ketika mendapatkan sesuatu dalam shalat, kalian melakukannya dengan bertepuk tangan? Sesungguhnya bertepuk tangan itu adalah isyarat yang dilakukan bagi kaum wanita. Maka siapa yang mendapatkan sesuatu yang keliru dalam shalat hendaklah mengucapkan Subhaanallah."

Kemudian Beliau memandang ke arah Abu Bakar radliallahu 'anhu seraya berkata:

" Wahai Abu Bakar, apa yang menghalangimu untuk melanjutkan memimpin shalat berjama'ah bersama orang banyak ketika aku sudah memberi isyarat kepadamu ( agar meneruskannya ) ? "

Abu Bakar menjawab:

" Tidak patut bagi Ibnu Abu Quhafah memimpin shalat di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam "

(HR.BUKHORI)

Selasa, 10 September 2013

bab berwudlu



assalamu'alaikum, semoga kita selalu dalam lindungan dan bimbingan Allah Swt. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Saw. melanjutkan tulisan kita kemarin tentang bab berwudlu, mari kita simak bersama.

1. Dari Abi Hurairah, ia berkata : telah bersabda Rasulullah Saw. : Apabila seseorang daripada kamu bangun dari tidurnya, maka hendaklah ia menaikkan air kehidung dan menghembuskannya, tiga kali karna itu bermalam dilobang hidungnya. (muttafaq 'alaih.)
keterangan :
- diperintah orang bangun tidur malam untuk membersihkan hidung dengan air hal ini sangat bisa jadi berhubungan dengan wudlu
- apa arti syaitan bermalam dilobang hidung ? kita serahkan saja pada Allah Swt dan Rasul-Nya. tetapi jika kita memperhatikan kalimah syaithan yang tersebut dalam Al quran dan hadits dapat diartikan bahwa barang-barang kotor dan jelek itu juga syaithan sebagaimana orang jahat dengan kemauan yang jelek dinamakan syaithan.

2. Dan daripadanya : Apabila bangun seseorang daripada kamu dari tidurnya, maka janganlah ia selamkan tangannya dibijana sebelum ia cuci dia tiga kali karena ia tidak tahu dimana telah bermalam tangannya. (muttafaq 'alaih) tetapi ini lafazh bagi muslim

3. Dari Laqith bin Shabirah. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Saw. : sempurnakanlah wudlu dan selat-selatilah antara jari-jari dan bersungguh-sungguhlah pada menaikkan air kehidung kecuali kalau engkau shaum. (dikeluarkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa-i, Ibnu Majah ; dan disahkan oleh Ibnu Khuzaimah)

4. Bagi Abi Dawud pada suatu riwayat : “apa bila engkau berwudu hendaklah engkau berkumur-kumur”.

5. Dari Abi Hurairah, ia berkata : saya mendengar Rasulullah Saw. Bersabda : “bahwasanya ummat-ku akan datang pada hari qiyamat didalam keadaan bercemerlang mukanya dan dua tangannya dari bekas wudlu; oleh itu, barang siapa dari kamu bisa melebarkan cemerlangnya hendaklah ia berbuat”. (muttafaq ‘alaih, tetapi itu lafazh bagi muslim)
Keterangan :
- hadits ini menggambarkan supaya orang yang berwudlu mencuci muka dan tangannya lebih dari batasnya.

6. Dari Aisyah. Ia berkata : Adalah Nabi Saw. Suka (memulai dari) kanan pada memakai kasut dan bersisir dan bersuci dan pada semua urusannya. (muttafaq ‘alaih)

7. Dari Abi Hurairah Ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Saw. : “Apabila kamu berwudlu, hendaklah kamu mulai dari (anggauta-anggauta) kanan kamu”. (dikeluarkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa-i, Ibnu Majah ; dan disahkan oleh Ibnu Khuzaimah)
Keterangan :
- Dihadits tersebut Rasulullah Saw. Perintah kita memulai dari yang kanan; tiap-tiap perintah itu hukumnya wajib, kecuali kalau ada keterangan atau perintah yang memalingkannya kepada arti sunnah.
- Selain yang disebutkan dalam Al qur-an, Semua Anggauta tambahan yang disebutkan dalam hadits-hadits itu kita anggap sunnah, bukan wajib.
- mendahulukan kanan bukan berarti menambah anggauta wudlu.

8. Dari Abi hurairah ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Saw. : “Tidak (shah) wudlu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah pada (permulaan)-nya”. (dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan sanad yang lemah)
Keterangan :- Ada banyak riwayat tentang membaca Bismillahirahmanirrahim dipermulaan wudlu; walau semua lemah tetapi lantaran yang satu menguatkan yang lain, maka kita percaya bahwa Nabi Saw. Ada membaca bismillah dipermulaan wudlu.

Dalam bab fiqih banyak terdapat perbedaan, jadi marilah kita saling menghormati perbedaan tersebut. Bisa jadi didalam perbedaan itu terdapat rahmat dari Allah Saw. Jangan merasa paling benar, karna hanya Allah yang maha tahu dan yang paling benar. Wallahu ‘alam. Semoga bermanfaat, Wassalamu’alaikum.

Source : Bulughul maram